you're reading...
Islam

Umar Bin Khathab

Terbakar Risalah Muhammad

Terbakar Risalah Muhammad

“Ya, tidak ada lagi tempat untuk lari, wahai Ummu Abdillah. Sekarang Makkah tidak lagi bersahabat dengan orang-orang lemah seperti kita. Para pembesar yang berkuasa hanya menyandera pikiran dan jiwa kita, setelah mereka terus-menerus merampas hasil keringat dan usaha kita. Seakan-akan hanya mereka yang mengetahui jalan kebenaran. Kebenaran yang memonopoli segalanya. Duhai Ummu Abdillah, betapa ini kebenaran yang memilukan. Cambuk-cambuk yang merobek tubuh orang-orang miskin seperti Yasir, Samiyah dan Bilal, membuat orang menentang kebenaran yang dijajakan oleh orang-orang seperti Abu Sufyan, Abu Jahal dan yang lainnya. Duhai Ummu Abdillah, betapa penindasan, pemaksaan dan penghinaan sangat bertentangan dengan kebenaran yang mereka usung itu. Karena itu, marilah kita hijrah ke Habsyah. Rasulullah Muhammad bin Abdullah telah menyuruh kita untuk hijrah. Ketahuilah, wahai Ummu Abdillah, Muhammad adalah laki-laki jujur dan mulia. Tidak ada cambuk di tangannya. Ia tidak pernah memaksa dan menghinakan manusia. Hanya kata-kata bernas penuh cahaya yang ada padanya, argumen otentik dan tingkah laku gemilang. Ia adalah sahabat kaum fakir, hamba sahaya dan orang-orang miskin. Ya, itulah sosok penuh cahaya. Ini sesuatu yang luar biasa, wahai istriku. Bukankah kilatan pedang tidak mampu memadamkan cahaya itu!?…”

Suara getir tentang gulita jahiliah di mana Umar sedang gemas-gemasnya ingin memenggal Muhammad. Umar, jawara Makkah, berperawakan tinggi-besar, bertubuh kekar dan berperangai kasar, lagi bengis-bengisnya menyakiti pengikut Nabi. Hingga suatu saat ambruklah kekuatan Umar digulung Al-Qur’an. Hanyut ia tersihir “daya magis” Al-Qur’an. “Wassalamu ‘ala mani-ittaba’a Al-huda” (selamatlah, orang yang mengikuti petunjuk). Waqad khaba man-iftara (dan sungguh sia-sia orang yang mengada-ada).

Kini terbakar hati Umar menyaksikan hakikat kebenaran dicabik-cabik oleh kepalsuan. Menjelmalah ia jadi pemangku risalah, bintang cemerlang di langit keimanan, hidupnya sendiri adalah saksi sekaligus pengawal perjalanan risalah.

Pujian:

Menatap cahaya setelah berkutat dalam lorong gelap, selalu melahirkan sikap-sikap istimewa. Begitulah yang terjadi pada Umar bin Khathab. Allah menunjukkan jalan cahaya itu (Islam) dan Umar bin Khathab meresponnya dengan penuh kecintaan.Asma Nadia, Penulis & CEO Lingkar Pena Publishing House

About Bukudiskon

www.bukudiskon.com adalah toko buku online berbasis komunitas dengan harga termurah.

Discussion

No comments yet.

Tulis komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: