you're reading...
Fiksi, Psikologi

Cinta Pedofilia Yang Galau

Lolita

Sumber: Harian Rakyat Merdeka

Kadangkala, batas antara seksualitas dan keindahan karya seni menjadi sangat kabur. Tak terhitung ribuan patung dan lukisan yang memperlihatkan ketelanjangan diakui sebagai sebuah mahakarya seni sepanjang masa.

Hal inilah yang, mungkin, menyebabkan berlarut-larut pembahasan RUU Pornografi di Indonesia belakangan ini, karena dianggap menabrak batas kabur antara seni dan pronografi.

Sekilas, aroma seksualitas terlihat begitu dominan dalam novel ini. Tema yang begitu tajam mengenai pedofilia telah membuat karya ini sempat dilarang beredar di Amerika Serikat. Walau begitu, novel ini tetap dianggap sebagai novel terbaik sepanjang masa oleh sejumlah kritikus sastra.

Begitu populernya, sehingga novel ini sempat dua kali difilmkan. Adaptasi pertama dibuat tahun 1962 dengan bintang James Mason dan Shelley Winters, sedang adaptasi kedua dibuat tahun 1997 dengan bintang Jeremy Irons, Dominique Swain, dan Melanie Griffith. Film tersebut sempat membuat penulis novel ini mendapat nominasi Academy Award.

Lolita merupakan novel brilian yang ditulis oleh Valdimir Nabakov, seorang sastrawan Rusia-Amerika kelahiran St. Petersburg. Pada novel-novel awalnya, nabakov menulis dalam bahasa Rusia, namun ia kemudian dikenal dunia internasional lewat novel-novelnya yang berbahasa Inggris.

Novel Lolita yang ditulis tahun 1955 ini disebut sebagai salah satu novel yang paling penting dari abad 20. Karya-karyanya menampilkan keahlian Nabokov dalam permainan kata dan detil yang deskriptif.

Kata “Lolita” sendiri kemudian menjadi istilah budaya pop yang merujuk kepada seorang gadis kecil yang menjadi dewasa secara seksual lebih cepat dari semestinya. Majalah Time bahkan memasukkan novel ini dalam TIME 100 Best English-language Novels from 1923 to 2005.

Cerita dalam Lolita dinarasikan melalui pengakuan seorang profesor berusia setengah baya bernama Humbert Humbert yang terobsesi dengan seorang gadis remaja bernama Dolores Haze, yang kemudian disebutnya dengan nama panggilan “Lolita”.

Obsesi tersebut merupakan buah dari kegagalan cintanya dengan seorang teman masa kecil Humbert bernama Annabel Leigh, yang kemudian meninggal karena sakit typus.

Puluhan tahun kemudian, kekagumannya beralih kepada sosok Dolores Haze, yang kebetulan dilihatnya ketika berjemur di taman. Dolores dianggapnya sebagai “titisan” dari Annabel.

Obsesinya yang begitu buta terhadap Dolores membuatnya menempuh berbagai cara yang gila, salah satunya adalah menikahi ibu Dolores!

Sementara Ibu Dolores sendiri, Charlotte Haze, merupakan seorang janda yang lama ditinggal oleh suaminya. Sayangnya, cinta Humbert kepada Dolores bertepuk sebelah tangan. Dolores yang masih begitu muda dan lugu menampik ajakan Humbert untuk hidup bersama.

Novel ini ditulis dengan gaya tragicomedy yang penuh parodi dan satir yang getir. Cerita dituturkan lewat pandangan sang tokoh, Humbert Humbert. Perspektif ini merupakan pilihan yang tepat mengingat dengan cara itu Nabakov bisa melukiskan secara total kegelisahan batin, kegalauan hidup, hingga kebingungan-kebingungan yang dialami oleh sang tokoh.

Lebih jauh, Lolita merupakan novel klasik yang banyak menginspirasi para novelis belakangan. Keberadaannya mungkin bisa disejajarkan dengan Anna Karenina karya Leo Tolstoy atau 1984 karya George Orwell.

Awinullah, pekerja di MRBooks

(Artikel ini dikutip dari Arsip Resensi Buku Penerbit Serambi)

About Bukudiskon

www.bukudiskon.com adalah toko buku online berbasis komunitas dengan harga termurah.

Discussion

No comments yet.

Tulis komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: